Newsletter Subscription


Receive HTML?

Twitter Show

By A Web Design Company

Opus Partners
Banner
Banner
Banner
Infolinks In Text Ads

Menciptakan Program Pengembangan yang Menghasilkan Kinerja Cemerlang

Menciptakan Program Pengembangan yang Menghasilkan Kinerja Cemerlang

Kita mengetahui bahwa ketika orang bekerja dengan efektif untuk menghasilkan kinerja yang baik, beberapa kompetensi mereka kombinasikan, dipilah dan dikombinasikan lagi untuk merespon kebutuhan situasi yang mereka alami. Kompetensi memberikan kita jalan untuk menganalisa komponen-komponen perilaku. Tugas kita kemudian adalah bukan untuk memilah-milah tetapi membangun kompetensi.

Kompetensi bisa saja tumpang tindih, terduplikasi dan diperkuat. Hal ini dapat dilihat dari pengelompokan kompetensi, dan pada konsep ‘sub-kompetensi’ atau ‘kompetensi tambahan’.

Mengembangakan Kapasitas Individu dan Keinginan untuk Menghasilkan Kinerja yang Cemerlang.

Pemain Individual

Mari kita menggunakan analogy permainan musik orkestra, dimulai dari individual musisi. Berhasilnya permainan sebuah musik sejalan dengan permainan individual musisinya. Pada level yang lain, alat music yang dimainkan dalam sebuah orchestra dapat diartikan sebagai kompetensi-kompetensi yang menghasilkan alunan music orchestra secara keseluruhan. Pada saat-saat tertentu, tidak semua alat music dalam orchestra tersebut dimainkan. Beberapa alat music yang dimainkan bersamaan menghasilkan harmoni. Beberapa alat music dimainkan dengan frekuensi atau ritme yang berbeda, ada yang lembut ada pula yang keras. Yang dihasilkan oleh gabungan permainan seluruh alat music tersebut adalah pertunjukan music orchestra secara keseluruhan.

Langkah-langkah yang diambil mulai dari mengkomposisikan sampai memainkan alat music tersebut terpisah satu sama lain. Apa saja langkah yang diambil dalam mengkomposisikan sebuah music? Yang jelas, kemampuan dalam memanipulasi setiap alat music untuk setiap pemain merupakan suatu keharusan. Hal ini membutuhkan:
• Pemahaman tentang notasi music (hal biasa bagi semua pemain music)
• Pemahaman tentang alat music, batasannya dan efek yang dihasilkan
• Keahlian dalam menghasilkan not-not dasar
• Keahlian dalam merespon tuntutan music itu sendiri
• Kahlian dalam menentukan ‘peran’ mulai dari virtuoso solo sampai support
• Memperkenalkan ‘pesonal style’ kedalam komposisi musik

Dalam konteks organisasi, memahami karakteristik, kegunaan dan dampak dari setiap perilaku yang menghasilkan sebuah kompetensi sangatlah penting. Tetapi menghasilkan ‘kinerja’ itu lebih dari hanya sekedar mengerjakan masing-masing perilaku itu sendiri.

Pada saat seorang composer menghasilkan sebuah komposisi music – dalam terminology organisasi, sebuah peran, tugas atau proyek – ia tidak menghasilkan sebuah komposisi music dari sekelompok alat music. Namun sang composer bekerja dengan cara mendengarkan permainan music secara keseluruh dan pada saat yang bersamaan mengatur permainan masing-masing alat music sehingga menghasilkan efek yang tepat.

Desainer sebuah program pengembangan dapat diibaratkan seperti kombinasi dari guru music yang mengajarkan dasar-dasar tentang music, dan composer yang menggabungkan setiap efek yang dihasilkan dari sebuah alat music untuk menjadi sebuah pertunjukan musik.

Apabila seorang composer dapat ‘melihat dan mendengar’ sebuah pertunjukan musik secara keseluruhan dalam benaknya, desainer program pengembangan dapat melihat gambaran tentang suatu kinerja hanya setelah kesempatan kepada masing-masing individu untuk melihat dan mendengar atau ‘mengalami’ kinerja yang dihasilkan dari mengekspresikan kompetensi diberikan kepada mereka. Hal inilah yang kami dilakukan melalui OPUS Leadership Development (dengan menggunakan kerangka kerja dari Crestcom) dimana kami memberikan serangkaian bahasan tentang kinerja seorang Pemimpin dengan mengajarkan kompetensi-kompetensi yang terkait dengan cara yang berbeda, dan memproses taktik spesifik untuk menindaklanjuti berbagai tuntutan Kepemimpinan. Kami sampaikan ini dengan menggunakan video dari para spesialis untuk masing-masing topic yang berbeda seperti Komunikasi, Manajemen Perubahan, Pelayanan Pelanggan, Motivasi, Penyelesaian Masalah, dan lain sebagainya.

Untuk level yang lebih basic, modul-modul untuk menanamkan pengetahuan dan mempraktekkan suatu kompetensi sebaiknya disampaikan dalam berbagai konteks dan situasi yang berbeda dimana kompetensi tersebut dilakukan dengan pola, ritme, intonasi, frekuensi, dan dampak yang bervariasi sebagai respon terhadap situasi yang berbeda.

Kinerja Group, Tim dan Organisasi

Setelah kita membahas kinerja individu (solo), kita kemudian akan membahas tentang group (quartet) dilanjutkan dengan tim (chamber orchestra) dan terakhir organisasi (symphonic orchestra). Analogy yang sama akan tetap dipergunakan, dengan pemahaman bahwa untuk memaksimalkan kapasitas masing-masing individu dengan lebih efektif, kesempatan untuk mempraktekkan kemampuan mereka secara berulangulang dengan group atau tim harus diberikan.

Sebuah orchestra professional yang terdiri dari musisi-musisi handal akan melakukan latihan bersama beberapa kali sebelum mereka tampil. Dengan seorang konduktor atau Pemimpin yang terampil dalam memimpin rankaian sesi latihan, mereka akan menghasilkan sebuah pertunjukan yang berkualitas tinggi. Lain halnya dengan orchestra yang terdiri dari musisi yang kurang berpengalaman, pendatang baru, masih belajar bahkan mungkin ada yang belum pernah belajar music sebelumnya. Orkestra sekolah misalnya, akan terdiri dari pemula yang belum tentu dapat membaca notasi music, beberapa pelajar yang sudah punya pengalaman beberapa tahun, dan kebanyakan yang diantaranya. Untuk mempersiapkan sebuah pertunjukan, mereka harus latihan berkali-kali, berminggu-minggu, untuk memastikan bahwa mereka menggunakan kemampuan masing-masing individu bagi keuntungan group orchestra mereka, mengasah kemampuan individu untuk menghasilkan pertunjukan secara keseluruhan.

Apa yang dibutuhkan untuk merubah perilaku untuk meningkatkan hasil akhir dan pencapaian target?

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini yang akan diulas di artikel yang akan datang. Tapi untuk saat ini, saya akan meminta anda untuk memikirkan sebuah fenomena yang membingungkan.

Mengapa di dalam olah raga, music dan area-area lain yang membutuhkan pengembangan keterampilan, dimana proses pembelajarannya mencakup pengenalan konsep, pengenalan perilaku, pengulangan, praktek, umpan balik, dapat diterima tanpa dipertanyakan? Tidak ada yang mengatakan bahwa hal ini harus dilakukan bagi terciptanya suatu pengetahuan, namun penerimaan ini benar adanya. Secara intuitif kita menyadari bahwa sebuah keterampilan tidak akan sempurna tanpa praktek dan umpan balik.

Tetapi tetap saja perusahaan mengeluarkan investasi untuk pelatihan yang bersifat ‘one off’, yang hanya menghasilkan sedikit perubahan perilaku tanpa ada perubahan dalam hasil bisnis perusahaan itu sendiri. Bukankah ini hanya membuang-buang waktu, uang dan mengurangi nilai daripada pelatihan dan pengembangan yang dipat dihasilkan untuk organisasi – terhadap hasil akhir dan pencapaian target strategis perusahaan?

Bagaimana perusahaan menindaklanjuti isu tentang pembuatan program pengembangan?

Seringkali investasi yang dikeluarkan untuk membuat suatu set kompetensi yang kompleks menghabiskan anggaran bahkan keinginan manajemen untuk berinvestasi kedalam program pelatihan dan pengembangan. Pembuatan silabus pelatihan menjadi prioritas terakhir.

Asumsinya adalah kita akan menuliskan semua judul kompetensi baru kemudian membuat program untuk mengajarkan masing-masing kompetensi tersebut. Riset mengatakan bahwa persentasi dari program seperti ini tidak menghasilkan perubahan perilaku, dan hanya sebuah tindakan yang mubazir bukan hanya dari sisi pembuatan pelatihan tapi juga dari kesuluruhan proses pembuatan set kompetensi.

Langkah pertama dalam pembuatan program pengembangan yang terintegrasi dan berhasil baik adalah dengan mengaplikasikan semua pengetahuan kita tentang pembelajaran dan perubahan perilaku kedalam proses pembuatan program tersebut. Meskipun masih ada lagi langkah-langkah lainnya yang dapat dilakukan, namun langkah pertama ini menjadi bagian penting pada tahap awal.

 

David Knowles
9 Juni 2010
@ OPUS Management Indonesia
 
   Opus Consultants

David Knowles
David Knowles is Managing Partner and OPUS Manag ...

Winda Soraya M Lubis
Winda Soraya M Lubis Winda Soraya M Lubis is an OP ...

Zusty Dewayani
With her educational background in Psychology and ...

Utami Ismarrahmini
OPUS Consultant Utami Ismarrahmini has a backgroun ...